“Sekolah Berbiaya Tinggi “ Itulah wacana yang tertanam di benak sebagian besar orangtua murid ketika pertama kali mengantar anak mereka untuk mendaftar di sekolah negeri dan swasta. Meskipun tidak sedikit upaya pemerintah baru-baru ini menyelenggarakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) namun tetap saja ada biaya yang harus dikeluarkan. Belum lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian buku baru setipa pergantian tahun ajaran yang memaksa orang tua murid yang berpenghasilan pas-pas an harus merogoh kocek mereka demi tuntutan kebutuhan sekolah anaknya.
Penulis pernah membaca sebuah buku berjudul ” Orang Miskin Dilarang Sakit” yang isinya meskipun mengenai tingginya biaya berobat di rumah sakit, namun sedikit menyinggung masalah biaya sekolah terutama uang untuk membeli buku. Pernah seorang anak yang sudah lulus sekolah dasar diminta mengumpulkan semua buku pelajaran dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 kemudian ditimbang, ternyata beratnya melebihi berat anak tersebut.
Permasalahan pendidikan di Indonesia menjadi sangat serius disamping biaya yang mahal juga beban pelajaran yang semakin berat bagi anak seusia itu. Belum lagi harus menjalani kursus-kursus di luar jam sekolah demi peningkatan nilai pelajaran yang menyebabkan anak tersebut memiliki waktu yang sangat terbatas untuk bermain sebagai bagian dari naluri intraksi sosialnya.
Dua hal ini yakni beban pendidikan dan beban psikologis anak yang membuat kami menyadari perlu diselenggarakan sebuah sekolah khusus yang tidak membebani biaya (gratis) dan memberikan metode pembelajaran khusus yang lebih banyak memberikan porsi pendidikan mental dan intraksi sosial. Sehingga dengan demikian, anak didik dapat tumbuh menjadi pribadi intelektual yang memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitarnya.
Kami mendirikan Sanggar Belajar dan Bermain BECCA (Basic Education for Children with Culture Approach atau Pendidikan Dasar bagi Anak dengan Pendekatan Budaya) yang sesuai namanya lebih menekankan pada menumbuhkan rasa cinta anak terhadap kebudayaan Jawa dengan mempraktekkan prilaku yang sopan baik dengan orang tua maupun dengan teman sepermainan dan melakukan permainan tradisional yang saat ini mulai dikembangkan.
Lembaga ini kami dirikan dan mulai aktif beroperasional sejak bulan Juni 2009 ini dan telah memiliki siswa kurang lebih 12 orang dengan jenjang pendidikan sekolah dasar. Berdasarkan pengalaman kami, metode pembelajaran yang efektif adalah belajar sambil bermain (dalam artian positif yang memiliki tujuan untuk peningkatan kreativitas anak dan keakraban), oleh karena itu motto dari SGB BECCA adalah ” learn and play”. Dan mengapa kami menggunakan bahasa Inggris sebagai nama lembaga, agar siswa kami terbiasa dalam istilah-istilah bahasa asing dan untuk kami khususnya dapat termotivasi untuk berpandangan secara global dan bertindak secara lokal. (Think global and Acting local).
Bagi pihak-pihak instansi negeri atau swasta maupun elemen masyarakat yang berminta mendapatkan informasi atau ingin memberikan bantuan, silahkan mengunjungi lembaga kami yang beralamat di :
SGB BECCA
d/a Jln Nangka no. P 49, Perum Sidoarum Blok 2, Godean, Sleman, Yogyakarta 55564.
Telp : 0274 – 798532. Mobile : 0881 268 8261
E-mail : ahmad_nurhakim@yahoo.com
Kontak Person : Nasir Ahmad,
Wahyu Dwi Ariandini
Nurhakim Ahmad
Segala kritik, saran dan masukan dari anda merupakan kontribusi yang sangat berharga yang sangat kami harapkan.




![images[29] images[29]](http://razor32.files.wordpress.com/2009/06/images29.jpg?w=201&h=161)



Cholesterol had become most terrified indeed, because it threat Coroner Hearth life. But actually, cholesterol could be managed , because it located inside animal meat. The meat absorbed by intestine through spleen vessel then went to blood vessel next. Cholesterol found on the meal named as Cholesterol Exogenic. The load of blood cholesterol or hypercholesteremia was often becoming the main risk of coroner hearth attack. In the same time, our body formed cholesterol named cholesterol endogenic. According to Miettinen in “feedstuff”, if we consumed food contained x mgr of cholesterol load (cholesterol exogenic) then our body would form 2 x mgr of cholesterol endogenic.



